Wajibkah Anak TK Untuk Bisa Membaca dan Menulias?

Berbincang-bincang seputar buah hati TK, sampai dikala ini, kita kerapkali mendengar perdebatan mengenai boleh tidaknya mewajibkan buah hati-buah hati TK untuk dapat membaca dan menulis. Anggapan yang mewajibkan buah hati TK dapat baca tulis hitung, umumnya dilatar belakangi oleh kemauan untuk dapat masuk SD dengan gampang sebab pada dikala percobaan masuk SD, ada banyak sekolah yang mensyaratkan calon siswanya untuk dapat baca tulis. Walaupun anggapan yang berlawanan dengan hal hal yang demikian, mengatakan bahwa mewajibkan buah hati TK dapat membaca dan menulis, berarti memaksakan buah hati untuk mempunyai kesanggupan yang sepatutnya baru diajar di SD. Berbicara ini membikin kesibukan bermain buah hati yang seyogyanya dominan untuk umur mereka, menjadi berkurang atau malahan mangkrak, sehingga dikhawatirkan akan menghalangi perkembangan potensi-potensi kesanggupan buah hati secara maksimal kelak kemudian hari.

Dengan adanya perdebatan hal yang demikian, tak jarang membikin orang tua menjadi linglung, anggapan mana yang semestinya dicontoh, sebab masing-masing anggapan, menonjol mempunyai alasan yang cukup kuat.

Dalam menyikapi hal ini, telah selayaknyalah kita menentukan alasan-alasan yang melatarbelakangi kedua anggapan hal yang demikian, untuk kemudian mencari jalan tengah yang bisa menjadi sebuah solusi yang bijak bagi buah hati. Bukankah kita sebagai orang tua atau guru memang mengharapkan potensi dan kesanggupan buah hati bisa tumbuh maksimal via rangsangan pengajaran atau pendidikan yang kita berikan terhadap mereka?

Berbincang-bincang seputar pengajaran buah hati umur dini, Selain resmi-resmi saja mengajari pembelajaran baca tulis pada buah hati-buah hati TK, asalkan buah hati telah siap untuk mendapatkan pembelajaran hal yang demikian atau umum disebut sebagai telah timbul masa pekanya. Adanya kesiapan atau sensitifitas hal yang demikian, umumnya timbul pada umur sekitar 4 – 6 tahun. Berbicara ini semisal ditandai dengan adanya atensi buah hati pada aktivitas-aktivitas pra membaca dan pra menulis seperti adanya kematangan visual motorik untuk bisa mengatur alat tulis dengan benar atau mencontoh sebagian format simpel, kesanggupan memfokuskan perhatian, kemauan atau ketertarikan yang kuat untuk memperhatikan gambar-gambar/artikel di buku atau sekadar membuka-buka buku/majalah, bahagia bermain dengan huruf-huruf, dan sebagainya.

Kerja mengamati masa sensitif buah hati untuk belajar baca tulis, penting pula untuk mengenal bagaimana sistem memberikan pembelajaran baca tulis hal yang demikian. Karena pada karakteristik lazim buah hati TK, dimana kesibukan bermain menjadi kesibukan dominan mereka, karenanya perlu diingat bahwa dalam memberikan pembelajaran baca tulis pada buah hati TK hendaknya dilaksanakan dengan pendekatan yang menyenangkan buah hati dan tak memaksa buah hati. Pendekatan informal dimana pembelajaran dipersembahkan dalam koridor bermain tampaknya menjadi sesuatu yang pantas untuk digunakan pada pendidikan baca tulis buah hati-buah hati TK. Pendekatan informal yang bisa dilaksanakan, semisal membacakan buku cerita sambil menunjukkan gambar dan artikel di buku/majalah yang sedang dibacakan, merekatkan gambar-gambar yang terkait dengan huruf atau artikel pada ruang bermain atau kamar tidur buah hati, mecoba mencontoh format lingkaran/garis atau huruf tertentu, mengajak buah hati menonton film yang bersifat mengajar sekalian menghibur sehubungan dengan pembelajaran baca tulis, bermain terka-terkaan huruf, menyusuri format huruf dengan jari, dan sebagainya.

Ayah belajar menuju kesanggupan baca tulis pada buah hati TK sebaiknya tak dilaksanakan dengan pendekatan formal, seperti layaknya buah hati-buah hati SD. Mengharuskan hal ini dikhawatirkan akan membikin buah hati merasa tertekan dan jenuh, mengingat kesanggupan buah hati untuk dapat berfokus pada satu topik bahasan umumnya masih benar-benar terbatas dan secara lazim buah hati masih berada dalam dunia bermain. Apalagi sekiranya dalam memberi pembelajaran hal yang demikian dilaksanakan dengan kekerasan, semisal disertai dengan makian-makian, hinaan atau ejekan manakala buah hati belum cakap meniru pembelajaran baca tulis yang dikasih, karenanya bukan tak mungkin buah hati akan tumbuh menjadi buah hati rendah diri, yang justru hal ini akan menghalangi perkembangan kecakapannya secara maksimal kelak kemudian hari.

Baca Juga : Les Privat TK

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa pendekatan bermain sambil belajar, yakni sistem terbaik menuju kesanggupan baca tulis pada buah hati TK. Guru dan orang tua hendaknya saling bekerjasama untuk bisa memberikan sistem belajar dan mendidik yang cocok untuk buah hati-buah hati TK mereka. Hakekatnya atau guru perlu menyesuaikan sistem mendidik baca tulis cocok dengan kesanggupan yang dimiliki setiap buah hati. Ini bisa Anda temukan pada .

Stimulasi segala buah hati TK untuk dapat baca tulis, tampaknya menjadi hal yang kurang bijak mengingat tiap-tiap buah hati mempunyai kesanggupan dan kesiapan belajar baca tulis yang berbeda satu sama lainnya. Selain masih banyak hal-hal lain yang penting untuk bisa diajar pada buah hati TK, daripada cuma terkonsentrasi pada kesanggupan baca tulis semata, semisal penanaman disiplin, kemandirian, tanggung jawab serta budi pekerti yang bagus. kepada kecerdasan intelektual buah hati, seperti pada aktivitas baca tulis, memang penting, tetapi perlu diupayakan jangan hingga rangsangan kepada kecerdasan intelektual terlalu berlebihan sehingga cenderung memaksakan buah hati dan melupakan aspek-aspek kecerdasan lain yang juga perlu memperoleh rangsangan seperti kecerdasan sosial, emosi, dan sebagainya, yang semuanya benar-benar dibutuhkan supaya bisa menjadi bekal bagi buah hati dalam menghadapi masa depannya kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *